Keluarga & Hubungan

Bisakah Anak Sukses Tanpa Kita Membentak?

Mengapa orang tua membentak? Pelajari cara mengajarkan tanggung jawab dan disiplin dengan arahan yang tegas sekaligus lembut.

2 menit baca

Seorang ayah berhenti sejenak di samping putranya saat bersiap untuk berangkat.

“Kalau tidak meninggikan suara, anak tidak mau mendengarkan.”

Mungkin Anda pernah berpikir begitu setelah berkali-kali meminta anak mengerjakan PR. Anda ingin ia serius belajar. Anda khawatir sikap yang terlalu lembut membuatnya tidak siap menghadapi kehidupan.

Bisakah kita mendidik anak menjadi disiplin dan mampu menghadapi tantangan tanpa membentak? Bisa. Arahan yang jelas dan aturan yang diterapkan secara konsisten bisa mengajarkan tanggung jawab tanpa harus selalu meninggikan suara.

Mengapa kita akhirnya membentak?

Kadang kita lelah, tertekan atau frustrasi karena cara lain terasa tidak berhasil. Ada juga yang mengulang cara mereka dibesarkan. Kita mungkin percaya bahwa sikap keras diperlukan untuk mendorong anak meraih kesuksesan.

Menyadari apa yang mendorong reaksi itu membantu kita mengubahnya. Sebelum suara meninggi, tanyakan: “Apakah saya sedang mengajarkan apa yang perlu dilakukan, atau hanya meluapkan rasa kesal?”

Anda bukan hanya ingin PR selesai malam ini. Anda ingin anak belajar memulai tugas yang sulit, meminta bantuan dan terus berusaha. Semua itu bisa diajarkan.

Bersikap lembut sambil tetap punya harapan tinggi

Dalam Surah Ali ‘Imran : 159, Allah menyebut kelembutan Nabi ﷺ terhadap para pengikut beliau:

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maknanya: Jika engkau bersikap kasar dan keras hati, tentu mereka akan menjauh darimu.”
Surah Ali ‘Imran, ayat 159 (kutipan; terjemahan makna)

Ayat ini bukan khusus tentang pengasuhan anak. Namun, peringatan tentang sikap kasar ini patut kita renungkan saat membimbing mereka.

Nabi ﷺ juga mengajarkan bahwa kelembutan menghiasi sesuatu, sedangkan ketiadaannya membuatnya buruk (Sahih Muslim 2594a).

Anda tetap bisa mengharapkan usaha, kejujuran dan sikap hormat sambil berbicara dengan lembut. Anda bisa menetapkan aturan dan menerapkannya saat dilanggar. Kelembutan mengubah cara Anda membimbing, bukan menghilangkan tanggung jawab untuk membimbing.

Ajarkan tanggung jawab yang ingin Anda lihat

Kembali ke PR yang belum selesai. Daripada berkata “Kamu malas! Bagaimana mau sukses?” coba: “Selesaikan PR dulu sebelum bermain. Tunjukkan bagian yang belum kamu pahami.”

Jika ia belum paham, bantu ia memulai langkah pertama. Jika ia sengaja menunda, pertahankan aturan yang disepakati: bermain setelah tugas selesai. Sesuaikan harapan dengan usia dan kemampuannya, lalu beri ruang untuk mengerjakan tugas sendiri.

Hargai usahanya: “Tadi kamu merasa ini sulit, tetapi kamu mulai dan terus mencoba.” Anak bisa mengenali usaha yang baik untuk diulangi.

Tujuannya adalah melatih tanggung jawab, bukan bertengkar tentang hal yang sama setiap malam. Tentukan waktu mengerjakan PR bersama, jelaskan aturan dan terapkan secara konsisten. Sesuaikan rencana jika belum berhasil.

Jika Anda terlanjur membentak, akui kesalahan: “Ayah salah karena membentak. Ayah minta maaf. PR tetap harus diselesaikan, tetapi ayah akan berbicara dengan baik.”

Tidak ada cara mengasuh yang menjamin kesuksesan masa depan. Namun, Anda bisa berusaha membesarkan anak yang bertanggung jawab, belajar dari kesalahan dan memperlakukan orang lain dengan baik, sambil memberi contoh yang sama.

Anda tidak perlu menurunkan harapan terhadap anak. Anda bisa mengubah cara membantunya memenuhi harapan itu.

Mulai memahami Al-Quran yang sudah Anda baca bersama ThinkQuran, dan temukan bagaimana petunjuknya membantu Anda memimpin keluarga.

Temuan terkait