Mengapa Surah Al-Asr Menyebut Manusia Berada dalam Kerugian?
Tiga ayat ini menghubungkan waktu yang kita gunakan dengan kebaikan yang kita lakukan dan bantu orang lain lanjutkan.
3 menit baca

Semua pekerjaan minggu ini sudah selesai. Namun, di balik banyaknya urusan yang berhasil dituntaskan, apa yang sebenarnya kita peroleh untuk hidup kita?
Surah Al-Asr mengajak kita melihat waktu melalui pertanyaan yang lebih besar: apa yang kita siapkan untuk kehidupan akhirat?
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Maknanya: Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.”
Setiap hari, sebagian usia kita berlalu
Saat mendengar kata kerugian, kita biasanya memikirkan uang, kesempatan atau barang yang hilang. Namun, waktu terus berjalan meskipun hidup terasa baik-baik saja.
Waktu hari ini tidak bisa kita simpan untuk digunakan tahun depan. Pertanyaannya, apa yang kita peroleh dari usia yang sudah kita jalani?
Kerugian yang dibicarakan surah ini jauh lebih besar daripada satu hari yang kurang produktif. Seseorang bisa meraih banyak pencapaian di dunia, tetapi mengabaikan hal yang penting untuk akhirat.
Karena itu, selain bertanya “Apa saja yang sudah saya selesaikan hari ini?”, kita bisa bertanya, “Bagaimana saya menggunakan hari ini untuk mencari rida Allah?”
Empat sifat yang menyelamatkan kita dari kerugian
Ayat berikutnya menjelaskan siapa yang terhindar dari kerugian ini:
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Maknanya: Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Keempat sifat ini saling berkaitan.
Iman memberi arah pada hidup kita. Amal saleh mewujudkan iman melalui salat, kejujuran, merawat keluarga dan menjalankan tanggung jawab.
Namun, surah ini tidak berhenti pada perbaikan diri sendiri. Kita juga diajak saling mengingatkan tentang kebenaran dan saling membantu untuk tetap sabar.
Keduanya diperlukan. Seseorang mungkin tahu bahwa salat itu penting, tetapi masih kesulitan menjaganya secara konsisten. Selain pengingat, ia mungkin membutuhkan dukungan saat berusaha memperbaiki diri.
Hal yang sama berlaku bagi kita. Kita mengingatkan orang lain, sekaligus mau mendengarkan ketika diingatkan.
Satu orang yang Anda bantu bisa membawa manfaat bagi beberapa generasi
Bayangkan Anda membantu satu orang belajar Surah Al-Fatihah. Ia mulai membacanya dalam salat setiap hari dan terus melakukannya selama 30 tahun.
Kemudian, ia mengajarkannya kepada anak-anaknya. Mungkin salah satu anaknya kelak mengajar orang lain.
Usaha yang berawal dari satu orang dan sedikit waktu Anda bisa bermanfaat bagi orang-orang yang tidak pernah Anda temui.
Nabi ﷺ bersabda:
“Maknanya: Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.”
Coba bayangkan sejauh mana kebaikan itu bisa berkembang. Orang yang Anda bantu terus mengamalkan apa yang dipelajarinya, hari demi hari. Orang lain mungkin belajar darinya dan melakukan hal yang sama.
Anda mungkin tidak tahu sejauh mana kebaikan itu telah sampai. Allah mengetahuinya.
Manfaatnya pun tidak harus berakhir ketika Anda meninggal. Nabi ﷺ juga mengajarkan:
“Maknanya: Ketika seseorang meninggal, amalnya terputus kecuali tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
Mengajarkan Al-Quran dengan benar adalah salah satu cara membagikan ilmu yang bermanfaat. Anda mungkin meluangkan satu jam untuk membantu seseorang, tetapi ilmu itu bisa ia amalkan selama puluhan tahun dan teruskan kepada generasi berikutnya.
Usia kita terbatas. Namun, kebaikan yang kita bantu orang lain lakukan bisa terus berlanjut setelah hidup kita berakhir.
Apa yang bisa Anda mulai hari ini?
Anda tidak perlu menunggu sampai mampu membantu ribuan orang.
Ajak seorang teman salat bersama. Jika ia belum konsisten, tetap beri semangat dengan baik. Jika Anda mampu mengajarkan Al-Quran dengan benar, bantu seseorang belajar. Jika belum, bantu ia menemukan guru yang tepercaya.
Pilih juga satu kebaikan yang sudah lama Anda tunda. Luangkan waktu untuk melakukannya hari ini.
Surah Al-Asr mengajak kita melihat keberhasilan lebih luas daripada banyaknya pekerjaan yang selesai, penghasilan atau harta yang dimiliki. Kita diajak untuk beriman, mewujudkannya dalam perbuatan dan saling membantu untuk terus melakukan kebaikan.
Tiga ayat singkat bisa mengubah cara kita menghargai seluruh kehidupan. Memahami Al-Quran yang kita baca membantu kita menemukan petunjuk seperti ini dan menerapkannya dalam pilihan sehari-hari.
Mulai memahami Al-Quran yang Anda baca bersama Think Quran.
Bagikan artikel ini
Diterbitkan
Sumber & referensi
- Surah Al-Asr : 1 - 3, The Clear Quran; kutipan ID merupakan terjemahan makna
- Surah Al-Asr : 1 - 3, Tafsir Ibn Kathir (Abridged)
- Surah Al-Asr : 1 - 3, Mufti Muhammad Shafi, Ma‘arif al-Qur’an
- Sahih Muslim 1893a, menunjukkan kepada kebaikan; terjemahan makna
- Sahih Muslim 1631, amal yang berlanjut setelah kematian; terjemahan makna
Temuan terkait

Ia Meninggalkan Mekah untuk Memulai Lagi. Apa yang Ia Lihat?
Kisah hijrah Abdurrahman bin Auf dari Mekah ke Madinah menunjukkan bagaimana iman membentuk tujuan hidup, usaha kita, dan kebaikan yang kita lakukan dengan kesuksesan.

Sekadar Tekan Suka? Bila Konten Menjadikan Orang Bahan Tertawaan
Surah Al-Humazah mengajak kita mengenali penghinaan yang bisa disampaikan tanpa kata-kata.

Bagaimana Al-Quran Mengubah Cara Kita Mengukur Keberhasilan
Kisah Qarun menunjukkan apa yang tidak bisa dinilai dari kekayaan saja, lalu mengajak kita melihat bagaimana kita menggunakan keberhasilan sendiri.