Kehidupan & Tujuan

Bagaimana Jika yang Anda Sebut Sukses Bukanlah yang Paling Penting?

Surah Al-Mulk menyebut hidup sebagai ujian siapa yang paling baik amalnya. Apa yang berubah jika satu ambisi Anda diukur dengan standar itu?

3 menit baca

Gambar buatan AI: di koridor kantor yang diterangi cahaya sore, seorang pria berjas berlutut membantu petugas gedung lanjut usia memunguti barang-barangnya yang terjatuh, sementara sebuah trofi emas tampak buram di latar depan.

Bayangkan Anda akhirnya meraih target yang sudah bertahun-tahun Anda kejar.

Anda naik jabatan. Bisnis Anda berkembang. Nama Anda mulai dikenal banyak orang.

Wajar kalau Anda merasa puas dengan kerja keras yang sudah dicurahkan.

Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan di momen seperti itu: Sebenarnya, apa yang sudah saya raih?

Ukuran keberhasilan yang berbeda

Surah Al-Mulk dibuka dengan pernyataan bahwa seluruh kerajaan ada di tangan Allah dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu (Surah Al-Mulk : 1). Lalu Allah menyebutkan mengapa Dia menciptakan mati dan hidup:

ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢

“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amalnya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Maha Pengampun.”
Surah Al-Mulk, ayat 2

Perhatikan tolok ukur dalam ayat ini: paling baik amalnya.

Bukan siapa yang paling kaya. Bukan siapa yang paling ramai dipuji. Bahkan bukan sekadar siapa yang tampak paling banyak berbuat.

Ibnu Katsir, mufasir klasik, mencatat pengamatan bahwa ayat ini menyebut amal yang paling baik, bukan amal yang paling banyak. Ath-Thabari menjelaskan bahwa ujian ini memperlihatkan siapa yang paling taat kepada Allah dan paling bersegera mencari rida-Nya.

Ayat yang sama ditutup dengan menyebut Allah Yang Mahaperkasa dan Maha Pengampun. Ujian ini datang dari Dia yang memegang seluruh kuasa, dan yang mengampuni siapa pun yang kembali kepada-Nya.

Jadi, hidup yang sibuk belum tentu hidup yang baik. Nilainya tidak bisa diukur dari besarnya hasil saja.

Dua bisnis, dua cara mengukur sukses

Bayangkan dua orang yang sama-sama membangun bisnis yang menguntungkan.

Penjualan keduanya terus naik. Keduanya dipuji atas pencapaiannya.

Orang pertama mengukur sukses terutama dari seberapa banyak uang yang masuk. Ia sengaja mencari untung dari usaha yang jelas diharamkan, dan melalaikan zakat padahal sudah wajib dikeluarkan.

Orang kedua berhati-hati soal apa yang ia jual dan bagaimana ia mendapatkan penghasilan. Bisnisnya dijaga tetap dalam batas halal, zakatnya ditunaikan saat sudah wajib, dan ia memilih menyisihkan sebagian penghasilannya untuk sedekah.

Di atas laporan keuangan, keduanya mungkin tampak sukses.

Namun pilihan-pilihan mereka menunjukkan bahwa ukuran sukses yang mereka pakai tidak sama.

Al-Quran sendiri membedakan jual beli yang halal dari riba (Surah Al-Baqarah : 275), dan memuji orang yang menginfakkan sebagian hasil usahanya yang baik serta menunaikan zakat (Surah Al-Baqarah : 267 dan 277).

Contoh ini hanya menunjukkan bahwa sukses lebih dari sekadar angka keuangan yang mengesankan.

Bagaimana dengan ambisi Anda?

Al-Quran tidak meminta Anda meninggalkan cita-cita. Carilah nafkah dengan jujur. Bangunlah sesuatu yang bermanfaat. Berusahalah bekerja sebaik mungkin.

Hanya saja, jangan biarkan apa yang sedang Anda bangun menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai diri Anda.

Laporan penjualan bisa menunjukkan berapa besar pendapatan bisnis Anda. Ia tidak bisa memberi tahu apakah pendapatan itu berasal dari usaha yang halal.

Angka laba tidak bisa memberi tahu apakah Anda sudah membayar zakat ketika tiba waktunya.

Dan sebuah penghargaan tidak bisa menunjukkan apakah Anda menyisihkan sebagian harta untuk menolong orang lain, atau apakah Anda tetap mengingat Allah selama mengejar tujuan itu.

Di sinilah ayat ini menantang kita: Apakah saya sekadar meraih lebih banyak, atau saya sedang menjadi lebih baik dalam bertindak?

Pertanyaan untuk dibawa ke esok hari

Pilih satu tujuan yang penting bagi Anda saat ini.

Periksa dengan jujur. Apakah Anda mengejarnya dengan cara yang benar? Apakah kewajiban Anda tetap terpenuhi? Bagaimana Anda memperlakukan orang-orang di sekitarnya? Dan apa sebenarnya niat Anda?

Sebelum bertanya, "Seberapa cepat saya bisa mencapainya?" ajukan satu pertanyaan lagi:

"Seperti apa mengejar tujuan ini dengan baik di hadapan Allah?"

Mungkin jawabannya mengubah cara Anda memperlakukan seseorang, kompromi yang Anda tolak, atau tanggung jawab yang tidak lagi Anda tunda.

Anda tetap boleh mengejar kesuksesan. Tetapi papan skor dunia tidak harus lagi menjadi satu-satunya ukuran Anda.

Temuan terkait