Media Sosial & Pengaruh

Saat Influencer Favorit Membuat Yang Salah Terlihat Benar

Kadang wajah yang kita sukai membuat kebohongan terlihat cerdas. An-Nas mengajak kita berhenti sebelum kekaguman menjadi pembenaran.

2 menit baca

Dua sahabat berpakaian sopan dan berhijab melihat satu ponsel bersama dengan antusias di kafe.

Bayangkan seorang kreator yang Anda suka. Dalam video yang dikemas menarik, ia bercanda tentang mengelabui pelanggan agar berhasil menjual. Penyampaiannya lucu. Kolom komentar memuji rasa percaya dirinya. Sesaat, berbohong terlihat seperti pintar membaca keadaan.

Coba tanyakan: jika orang tanpa pesona, pengikut atau latar yang indah menceritakan tindakan yang sama, apakah saya masih setuju? Pertanyaan kecil ini bisa menunjukkan seberapa jauh kemasan telah mengubah penilaian kita.

Suara itu tidak harus terdengar menakutkan

An-Nas mengajarkan kita memohon perlindungan kepada Allah, Tuhan, Raja dan sembahan manusia, dari kejahatan pembisik. Ayat-ayat penutupnya menjelaskan bisikan itu dan dari mana ia bisa datang:

ٱلَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ ۝ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

“Maknanya: yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.”
Surah An-Nas, ayat 5 - 6 (terjemahan makna)

Makna surah ini lebih luas daripada media sosial. Peringatannya juga mengajak kita mengenali pengaruh buruk dalam ucapan manusia. Tafsir Ibnu Katsir membahas bisikan dari manusia dan jin. Mengaitkan pelajaran ini dengan linimasa adalah refleksi masa kini, bukan klaim bahwa surah ini diturunkan khusus tentang influencer.

Kreator bisa mengajarkan hal berguna, menghibur atau memperkenalkan kebiasaan baik. Popularitas sendiri bukan kesalahan. Yang perlu dinilai adalah apa yang suatu pesan mengajak kita terima.

Saat namanya berubah, tindakannya bisa tersamarkan

Dalam video rekaan tadi, berbohong menjadi “cerdas.” Mengingkari janji menjadi “mengutamakan diri.” Kepercayaan orang lain menghilang dari cerita. Kita diajak mengagumi pembicara sebelum memeriksa tindakannya.

Al-An‘am : 112 menggambarkan musuh para nabi yang saling menyampaikan ucapan indah untuk menipu. Konteks itu bukan izin untuk melabeli seorang kreator sebagai musuh nabi. Ayat tersebut mengingatkan bahwa kata-kata menarik bisa membawa penipuan. Penyajian yang meyakinkan belum membuktikan pesannya benar atau baik.

Coba jelaskan tindakan itu tanpa istilah pilihannya: “Ia mengatakan sesuatu yang tidak benar kepada pelanggan untuk mendapatkan uang.” Ketika tindakannya kembali terlihat jelas, kita bisa menilainya dengan lebih jujur.

Beri penilaian Anda sedikit ruang

Kita tidak perlu menebak isi hati seseorang. Kita bisa menolak satu pesan yang buruk tanpa terus mengulang alasan yang dibawanya. Berhenti sebelum meniru. Jika ragu tentang hukum agama, tanyakan kepada guru yang kompeten, bukan menyerahkan keputusan kepada kolom komentar.

Baca An-Nas beserta maknanya dan mohon perlindungan Allah. Bersamaan dengan ibadah itu, buat pilihan praktis tentang apa yang Anda tonton. Membisukan akun yang berulang kali melemahkan penilaian adalah salah satu pilihan; itu bukan ritual khusus yang ditetapkan surah ini.

Dengan ThinkQuran, bangun pemahaman surah yang akrab melalui Surah Quest. Lalu gunakan Reflection untuk berhenti bersama satu ayat dan menghubungkannya dengan pilihan sehari-hari. Memahami bacaan bisa membantu Anda membawa pertanyaan yang lebih jernih saat kembali menggulir.

Kunjungi ThinkQuran

Lanjutkan belajar tentang Al-Quran bersama ThinkQuran.

ThinkQuran →

Diterbitkan

Sumber & referensi

Temuan terkait