Media Sosial & Pengaruh

Sekadar Tekan Suka? Bila Konten Menjadikan Orang Bahan Tertawaan

Surah Al-Humazah mengajak kita mengenali penghinaan yang bisa disampaikan tanpa kata-kata.

2 menit baca

Seorang pria berhenti sejenak sambil melihat ponselnya di kafe.

Bayangkan sebuah video menampilkan seseorang yang terbata-bata saat presentasi. Keterangannya mengejek kecerdasan orang itu. Seorang teman menandai Anda, dan kolom komentar dipenuhi emoji tertawa.

Jari Anda hampir menekan tombol suka. Anda tidak merekam video atau menulis ejekannya. Namun, apa yang akan ditambahkan oleh reaksi Anda pada perlakuan terhadap orang itu?

Ejekan tidak selalu berupa kata-kata

Surah Al-Humazah dibuka dengan peringatan:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

“Maknanya: Celakalah setiap pengumpat dan pencela.”
Surah Al-Humazah, ayat 1 (terjemahan makna)

Dalam penjelasannya tentang ayat ini, Ibnu Katsir menyebut perbuatan merendahkan orang melalui ucapan serta gerakan tangan atau mata. Seseorang bisa menunjukkan penghinaan tanpa banyak berbicara.

Penjelasan ini membantu kita menilai perilaku di media sosial. Reaksi tertawa bisa menjadi cara ikut mengejek. Komentar yang menghina menambah cemoohan. Membagikan video itu mengajak lebih banyak orang menontonnya.

Ini adalah contoh penerapan ajaran tersebut dalam kehidupan sekarang. Perhatikan apa yang dilakukan unggahan itu dan apa yang ditambahkan oleh respons Anda. Menyukai penjelasan yang bermanfaat berbeda dengan menertawakan seseorang yang sedang dipermalukan.

Apa yang kita anggap tahu tentang dirinya?

Surah Al-Hujurat : 11 melarang kita mengolok-olok orang lain dan mengingatkan bahwa orang yang diejek mungkin lebih baik daripada yang mengejek. Ayat ini juga melarang panggilan yang menghina.

Dalam contoh tadi, satu kesalahan saat berbicara dijadikan ukuran kecerdasan seseorang. Kita hampir tidak mengenalnya, tetapi keterangan video mengajak kita merasa lebih hebat. Ayat ini memberi alasan untuk mempertanyakan ajakan itu sebelum ikut mengejek.

Reaksi kecil bisa membawa akibat besar

Video pendek tidak memperlihatkan seluruh keadaan. Mungkin ada konteks penting yang tidak disertakan, atau tuduhannya tidak benar. Ketika orang fasik membawa berita, Allah memerintahkan orang beriman:

فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Maknanya: Periksalah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum tanpa pengetahuan, lalu menyesali perbuatanmu.”
Surah Al-Hujurat, ayat 6 (kutipan; terjemahan makna)

Saat unggahan menyebar, orang yang diejek bisa dipermalukan di hadapan jauh lebih banyak orang. Sebelum ikut bereaksi, pikirkan apa yang sedang Anda bantu sebarkan.

Nabi ﷺ memperingatkan tentang orang yang bangkrut pada hari kiamat:

Hadis
“Seseorang datang membawa salat, puasa dan zakat, tetapi pernah menghina, memfitnah dan menzalimi orang lain. Pahalanya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Jika pahalanya habis sebelum semua kezaliman diselesaikan, dosa mereka dibebankan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.”
Sahih Muslim 2581 (ringkasan makna)

Pilih apa yang ingin Anda tambahkan

Sebelum memberi like, berkomentar atau membagikan, tanyakan: “Apakah saya tahu ini benar? Apakah saya ikut mempermalukan seseorang?”

Jika video mengejek seseorang yang terbata-bata saat berbicara, biarkan penyebarannya berhenti pada Anda. Pilih untuk tidak memberi suka, berkomentar atau membagikannya.

Jika Anda sudah menulis komentar mengejek atau membagikan video itu, hapus yang masih bisa dihapus. Mohon ampun kepada Allah dan hentikan penyebarannya. Jika Anda telah menyakiti seseorang, pikirkan cara memperbaikinya tanpa menarik lebih banyak perhatian kepadanya.

Memahami surah pendek bisa mengubah hal yang Anda perhatikan saat menggunakan ponsel. Think Quran membantu Anda mulai mempelajari kata-kata Al-Quran agar Anda dapat menemukan lebih banyak petunjuk dalam ayat yang dibaca.

Temuan terkait