Ia Meninggalkan Mekah untuk Memulai Lagi. Apa yang Ia Lihat?
Kisah hijrah Abdurrahman bin Auf dari Mekah ke Madinah menunjukkan bagaimana iman membentuk tujuan hidup, usaha kita, dan kebaikan yang kita lakukan dengan kesuksesan.
2 menit baca

Bayangkan Anda melihat seorang pedagang sukses meninggalkan Mekah.
Ia sudah punya mata pencaharian yang mapan dan banyak relasi. Sekarang ia pindah ke Madinah, dan di sana ia harus memulai dari awal lagi.
Bagi orang yang hanya memikirkan keamanan finansial, keputusan ini mungkin terlihat kurang masuk akal.
Namun Abdurrahman bin Auf (RA) berhijrah karena imannya.
Al-Quran menggambarkan kaum Muslim awal yang berhijrah sebagai orang-orang yang mencari karunia Allah dan rida-Nya (Surah Al-Hasyr : 8).
Ia melihat tujuan yang layak diperjuangkan, meskipun harus meninggalkan kehidupan yang sudah akrab baginya.
Tunjukkan Aku Jalan ke Pasar
Ketika Abdurrahman tiba di Madinah, seorang sahabat yang kaya, Sa'ad bin Ar-Rabi', menawarkan setengah hartanya kepadanya.
Abdurrahman berterima kasih, mendoakan agar Allah memberkahinya, lalu berkata:
"Tunjukkan aku jalan ke pasar."
Ia mulai berdagang dan mendapatkan keju kering dan mentega. Tidak lama kemudian, ia sudah mampu untuk menikah.
Kisah ini tercatat dalam Sahih al-Bukhari 2049.
Ia bertawakal kepada Allah, tetapi ia tidak hanya duduk menunggu. Ia mencari peluang dan berusaha membangun mata pencahariannya.
Harta Menjadi Sarana untuk Lebih Banyak Kebaikan
Seiring waktu, Abdurrahman menjadi sangat kaya.
Sebuah riwayat sejarah menyebutkan bahwa ia pernah menjual tanah seharga 40.000 dinar emas dan membagikan hasilnya kepada orang-orang yang membutuhkan, termasuk istri-istri Nabi Muhammad ﷺ.
Ia datang ke Madinah dalam keadaan harus membangun kembali mata pencahariannya. Kemudian, ia mampu membawa perubahan besar dalam kehidupan orang lain.
Al-Quran mengajarkan kita untuk mencari akhirat melalui karunia yang Allah berikan, tanpa melupakan bagian kita di dunia, dan berbuat baik kepada sesama (Surah Al-Qasas : 77).
Harta dapat memperbaiki hidup kita, memberi kenyamanan bagi keluarga, dan membuka lebih banyak kesempatan untuk berbuat baik.
Apa yang Bisa Kita Pelajari tentang Cara Hidup Seorang Mukmin?
Allah berfirman:
ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.”
Hidup kita tidak diukur dari harta saja, tetapi juga dari cara kita menjalani hidup dan apa yang kita lakukan.
Kisah Abdurrahman memberi kita tiga pelajaran berharga:
Iman membentuk apa yang ia kejar, cara ia berusaha, dan apa yang ia lakukan dengan hasilnya.
Anda pun bisa bercita-cita tinggi, membangun kekayaan, memperbaiki kehidupan keluarga, dan meraih hal-hal besar.
Apa pun yang Allah karuniakan kepada Anda, berusahalah menjadikannya amal terbaik, dan gunakan untuk lebih banyak kebaikan.
Bagikan artikel ini
Diterbitkan
Sumber & referensi
- Surah Al-Hasyr : 8 (hijrah dan rida Allah)
- Sahih al-Bukhari : 2049 (tawaran, pasar, perdagangan, dan pernikahan)
- Surah Al-Qasas : 77 (menggunakan karunia Allah untuk kebaikan)
- Surah Al-Mulk : 2 (amal terbaik); terjemahan makna oleh tim kami
- Riwayat sejarah penjualan tanah 40.000 dinar (Musnad Ahmad 25032, hasan), pembahasan ilmiah
- Jami' at-Tirmidhi : 3749 (dukungan bagi istri-istri Nabi)
Temuan terkait

Bagaimana Al-Quran Mengubah Cara Kita Mengukur Keberhasilan
Sebagian orang pernah mendambakan kekayaan Qarun. Sehari kemudian, mereka bersyukur karena tidak mengalami nasib yang sama. Kisahnya mengubah cara kita mengukur keberhasilan.

Mengapa Kita Terus Memohon Jalan yang Lurus?
Jika sudah beriman, mengapa masih meminta petunjuk? Pahami makna permohonan dalam Surah Al-Fatihah bagi keputusan Anda sehari-hari.

Anda Tidak Perlu Tahu Bagaimana Semuanya Akan Berakhir
Anda sudah berusaha, tetapi pikiran masih dipenuhi ketidakpastian. Temukan cara terus melangkah dengan bertawakal kepada Allah.
