Rahmat Tersembunyi di Balik Musibah
Kisah sepasang orang tua dalam Surah Al-Kahf menunjukkan bahwa kehilangan yang menyakitkan bisa menyimpan rahmat yang belum mampu kita pahami.
3 menit baca

Saat membaca kisah Nabi Musa dan Khidr, kita biasanya mengikuti pertanyaan-pertanyaan Nabi Musa. Sekarang, mari berhenti sejenak dan memikirkan orang tua anak itu.
Putra mereka dibunuh.
Bayangkan merawat seorang anak sejak kecil. Kita menyuapinya, menjaganya, dan menyaksikan dia tumbuh. Kita mencintainya dan membayangkan banyak tahun yang akan dilalui bersama. Lalu, tiba-tiba dia tiada.
Nabi Musa pun terkejut dan memprotes ketika Khidr membunuh anak itu:
فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمٗا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسٗا زَكِيَّةَۢ بِغَيۡرِ نَفۡسٖ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـٔٗا نُّكۡرٗا ٧٤
“Musa memprotes: “Mengapa engkau membunuh jiwa yang tidak bersalah, padahal dia tidak membunuh siapa pun? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.””
Belakangan, Khidr menjelaskan sesuatu yang tidak diketahui Nabi Musa:
وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِينَآ أَن يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗا ٨٠
“Adapun anak itu, kedua orang tuanya beriman. Kami khawatir dia akan membebani keduanya dengan kedurhakaan dan kekufuran.”
فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرٗا مِّنۡهُ زَكَوٰةٗ وَأَقۡرَبَ رُحۡمٗا ٨١
“Maka kami menghendaki agar Tuhan mereka menggantinya dengan anak yang lebih baik kesucian jiwanya dan lebih dekat kasih sayangnya.”
Allah menghendaki agar iman kedua orang tua itu terlindungi dan mereka mendapatkan anak yang lebih baik kesucian jiwanya serta lebih penyayang.
Ibn Kathir mencatat renungan Qatadah, seorang ahli tafsir dari generasi awal: kedua orang tua itu berbahagia saat putra mereka lahir dan berduka ketika dia meninggal. Namun, jika tetap hidup, anak itu akan menjadi penyebab kebinasaan mereka.
Kehilangan mereka sungguh nyata. Melalui kehilangan itu, Allah melindungi sesuatu yang jauh lebih berharga: iman mereka.
Perlindungan ini tidak hanya berarti bagi sisa hidup mereka di dunia. Iman mereka juga menyangkut kehidupan yang berlanjut setelah kematian.
Khidr menerima ilmu dan petunjuk dari Allah. Di akhir penjelasannya, dia menegaskan bahwa semua itu tidak dilakukan atas kehendaknya sendiri.
Dalam perjalanan yang sama, ada orang-orang miskin yang menggantungkan nafkah pada sebuah perahu. Khidr merusaknya karena seorang raja merampas perahu-perahu yang masih baik secara paksa. Kerusakan itu justru melindungi perahu mereka dari perampasan.
Dua kisah ini menyentuh hal-hal yang sangat berarti bagi manusia: orang yang dicintai dan sumber penghidupan. Keduanya mengajak kita tetap percaya kepada Allah dalam segala bentuk kehilangan, meskipun keadaan yang kita alami berbeda.
Rumah bisa musnah karena kebakaran atau banjir. Sebuah keluarga bisa menghadapi penyakit berat, kehilangan penghasilan, atau kehabisan tabungan. Rasa sakitnya mungkin begitu besar sampai sulit membayangkan ada kebaikan di tengah kejadian itu.
Dalam keadaan seperti ini, seorang mukmin boleh berharap ada rahmat Allah di tengah kehilangan, meskipun pikirannya belum mampu memahami seperti apa rahmat itu.
“Nabi ﷺ mengajarkan bahwa ketika seorang mukmin menghadapi kesulitan dengan sabar, sikap itu menjadi kebaikan baginya.”
Sebagian nikmat mungkin baru terlihat kemudian. Pahala kesabaran pun dapat menjangkau kehidupan setelah dunia ini.
“Sebagai contoh, Nabi ﷺ menyampaikan janji Allah berupa surga bagi hamba-Nya yang beriman ketika dia kehilangan seseorang yang dicintai, lalu bersabar dengan mengharapkan pahala dari Allah.”
Apa pun kehilangan yang kita alami, kita tetap bisa mencari bantuan dan berusaha pulih sambil bertawakal kepada Allah. Kita bisa berduka sekaligus bersyukur atas nikmat yang masih Dia berikan.
Memandang hidup melalui lensa Al-Quran berarti mengakui bahwa rasa sakit kita nyata, sementara ilmu Allah melampaui apa yang dapat kita lihat.
Bersabarlah, percayalah kepada Allah, dan tetap bersyukur.
Ketika kesedihan datang lagi, ucapkan Alhamdulillah. Jadikan itu pengingat bahwa kita bisa tetap percaya kepada Allah dan mensyukuri nikmat-Nya, bahkan saat hati masih berduka.
Bagikan artikel ini
Diterbitkan
Sumber & referensi
- Surah Al-Kahf : 74 (kutipan terjemahan makna dalam bahasa Indonesia)
- Surah Al-Kahf : 80 (adaptasi terjemahan makna dalam bahasa Indonesia)
- Surah Al-Kahf : 81 (adaptasi terjemahan makna dalam bahasa Indonesia)
- Renungan Qatadah dalam Tafsir Ibn Kathir, Al-Kahf 18:80-81 (ringkasan)
- Surah Al-Kahf : 82, penjelasan Khidr tentang tindakannya
- Surah Al-Kahf : 79, perahu dan para pemiliknya
- Sahih Muslim 2999 (ringkasan makna hadis)
- Sahih al-Bukhari 6424 (ringkasan makna hadis)
- Foto utama: Serena Koi / Pexels (dipangkas)
Temuan terkait

Ia Meninggalkan Mekah untuk Memulai Lagi. Apa yang Ia Lihat?
Kisah hijrah Abdurrahman bin Auf dari Mekah ke Madinah menunjukkan bagaimana iman membentuk tujuan hidup, usaha kita, dan kebaikan yang kita lakukan dengan kesuksesan.

Bagaimana Al-Quran Mengubah Cara Kita Mengukur Keberhasilan
Kisah Qarun menunjukkan apa yang tidak bisa dinilai dari kekayaan saja, lalu mengajak kita melihat bagaimana kita menggunakan keberhasilan sendiri.

Mengapa Surah Al-Asr Menyebut Manusia Berada dalam Kerugian?
Tiga ayat ini menghubungkan waktu yang kita gunakan dengan kebaikan yang kita lakukan dan bantu orang lain lanjutkan.