Kehidupan & Tujuan

Saat Impian Anda Terasa Mustahil

Bawa harapan terbesar Anda kepada Allah. Temukan tuntunan untuk berdoa, memperbaiki pilihan sehari-hari, berikhtiar, dan bersyukur saat mengejar impian.

6 menit baca

Seorang pria menggambar sketsa bangunan berwarna putih pada jendela yang menghadap kota saat matahari terbenam.

Apa impian terbesar Anda?

Mungkin Anda ingin melunasi utang keluarga, membangun usaha yang bermanfaat, atau memahami Al-Quran setelah bertahun-tahun hanya bisa membacanya.

Lalu Anda melihat kemampuan sendiri, dana yang tersedia, dan jalan yang masih panjang. Rasanya impian itu terlalu jauh untuk diraih.

Anda mungkin pernah mendengar ajakan untuk menetapkan niat, membayangkan masa depan yang lebih baik, dan mensyukuri setiap kemajuan. Harapan, usaha yang terarah, dan rasa syukur juga punya tempat dalam kehidupan seorang Muslim.

Islam sudah mengajarkan doa, prasangka baik kepada Allah, ikhtiar, dan syukur. Ajaran itu dapat membimbing kita dalam mengejar cita-cita.

Sebagian orang berbicara tentang meminta kepada alam semesta. Kita memohon kepada Allah yang menciptakannya. Kita meminta dengan tulus, mengusahakan kebaikan, dan mencari petunjuk-Nya sepanjang perjalanan.

Keterbatasan Anda tidak membatasi kuasa Allah

Nabi Zakariyya memohon seorang anak saat usianya sudah lanjut dan istrinya tidak dapat melahirkan. Beliau menyampaikan keadaan itu dengan terbuka dalam doanya.

Allah kemudian memberinya kabar gembira tentang seorang putra. Ketika Zakariyya bertanya bagaimana hal itu dapat terjadi, jawabannya antara lain:

هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٞ

“Hal itu mudah bagi-Ku.”
Surah Maryam, ayat 9 (kutipan)

Allah juga mengingatkan bahwa Dia telah menciptakan Zakariyya sebelumnya, saat ia belum ada. (Surah Maryam : 4–9)

Zakariyya memahami keadaannya. Beliau pun tahu kepada siapa beliau meminta.

Kisah ini mengajak kita membawa harapan yang paling sulit sekalipun kepada Allah. Kita belum melihat jalan keluar, tetapi Allah mampu membukakan jalan.

Ada yang bisa kita pelajari dari cara beliau berdoa: mengakui kelemahan, menyampaikan harapan, dan menghadap Allah dengan penuh pengharapan.

Anda tidak harus berpura-pura mampu melakukan semuanya atau sudah memiliki semua jawaban. Anda boleh berkata dengan jujur, “Ya Allah, aku belum melihat jalan ke depan. Bimbinglah aku dan bukakan jalan untukku.”

Berbaik sangka kepada Allah

Dalam sebuah hadis qudsi, Nabi ﷺ menyampaikan firman Allah:

Hadis
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
Sahih al-Bukhari 7405 (kutipan terjemahan makna)

Hadis ini berlanjut dengan penjelasan tentang mengingat Allah dan mendekat kepada-Nya. Kita diajak datang kepada Allah dengan harapan. (Sahih al-Bukhari 7405)

Harapkan rahmat-Nya. Mohon pertolongan-Nya. Mintalah sesuatu yang baik meskipun Anda belum pernah meraih hal sebesar itu.

Ada pula peristiwa ketika Nabi ﷺ menjenguk seorang laki-laki yang demam. Beliau menenangkannya dengan mengatakan bahwa sakit itu dapat menjadi penghapus dosa, insyaallah. Namun, laki-laki itu menolak ucapan tersebut. Ia bersikeras bahwa demam itu akan membawanya ke kubur. Nabi ﷺ menjawab,

Hadis
“Kalau begitu, ya, demikianlah.”
Sahih al-Bukhari 5662 (kutipan terjemahan makna)

Renungan yang bisa kita ambil adalah menerima pengingat tentang rahmat Allah dengan harapan. Jangan terburu-buru memastikan bahwa keadaan sulit hanya akan membawa keburukan.

Coba rasakan perbedaan antara, “Tidak mungkin ada kebaikan dari semua ini,” dan, “Ini memang sulit, tetapi Allah masih bisa menghadirkan kebaikan.”

Sertai harapan itu dengan permohonan petunjuk. Dalam istikharah, Nabi ﷺ mengajarkan kita meminta agar Allah memudahkan hal yang baik bagi agama dan kehidupan kita, serta menjauhkan kita dari hal yang membahayakan. (Sahih al-Bukhari 1166)

Anda boleh sangat menginginkan sesuatu sambil tetap percaya bahwa Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi Anda.

Perubahan perlu terlihat dalam pilihan Anda

Salah satu ayat yang sering dikutip ketika membahas perubahan diri adalah:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
Surah Ar-Ra‘d, ayat 11 (kutipan)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dalam kaitannya dengan hilangnya nikmat ketika manusia berpaling dari ketaatan. Ayat tersebut berbicara tentang tanggung jawab moral dan hubungan antara perilaku manusia dengan keadaan mereka. (Surah Ar-Ra‘d : 11; Tafsir Ibnu Katsir)

Saat merenungkan hidup sendiri, ada pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar membayangkan kesuksesan: apa yang perlu berubah dalam cara saya menjalani hidup?

Jika Anda ingin menjadi pengusaha yang dapat dipercaya, mulailah menepati janji ketika usaha masih kecil.

Jika ingin memahami Al-Quran, sediakan waktu belajar sebelum Anda merasa sudah berilmu.

Jati diri yang ingin dibangun menjadi berarti ketika memengaruhi pilihan sehari-hari. Menyebut diri disiplin tidak banyak artinya jika setiap pekerjaan sulit selalu ditunda.

Selain bertanya, “Apa yang ingin saya capai?”, tanyakan juga, “Sifat apa yang perlu saya latih agar bisa menjadi pribadi itu?”

Sertakan kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab dalam jawaban Anda. Pribadi yang terbentuk selama mengejar impian juga penting.

Susun rencana dan bertawakal selama berusaha

Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk bermusyawarah, lalu berfirman:

فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ

“Apabila engkau telah mengambil keputusan, bertawakallah kepada Allah.”
Surah Ali ‘Imran, ayat 159 (kutipan)

Musyawarah, keputusan, dan tawakal hadir bersama. (Surah Ali ‘Imran : 159)

Untuk tujuan Anda sendiri, buat langkah berikutnya sejelas mungkin. Jika ingin membangun usaha, “ingin sukses” belum memberi petunjuk tentang apa yang perlu dilakukan besok. Berbicara dengan lima calon pelanggan tentang masalah nyata mereka memberi Anda titik awal.

Tentukan target pertama yang masuk akal untuk diusahakan, luangkan waktu untuk mengerjakannya, dan mintalah saran orang yang memahami bidang tersebut. Mohon pertolongan Allah ketika bersiap maupun saat bertindak.

Nabi ﷺ juga mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh mengejar hal yang bermanfaat, meminta pertolongan Allah, dan tidak menyerah pada rasa tidak berdaya. (Sahih Muslim 2664)

Tawakal berarti bersandar kepada Allah sepanjang ikhtiar. Kita memerlukan pertolongan-Nya untuk belajar, mengambil keputusan yang baik, dan menjalankannya.

Saat percobaan belum berhasil, evaluasilah dengan jujur. Mungkin caranya perlu diganti, keterampilan perlu ditingkatkan, atau tujuannya perlu dipertimbangkan kembali. Semua itu tetap sejalan dengan tawakal.

Tetap bersyukur dan jujur saat menunggu

Impian besar kadang membuat setiap pencapaian kecil terasa kurang berarti.

Anda mengharapkan usaha yang berkembang, tetapi baru memiliki satu pelanggan yang puas. Anda ingin memahami seluruh surah, tetapi baru memahami satu ayat.

Perhatikan apa yang sudah Allah berikan.

Allah berfirman:

لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ

“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
Surah Ibrahim, ayat 7 (kutipan)

Allah menjanjikan tambahan bagi orang yang bersyukur. Kita mempercayai janji itu sambil menyerahkan bentuk dan waktunya kepada-Nya. (Surah Ibrahim : 7)

Syukuri kesempatan, bantuan yang diterima, dan kemajuan itu sendiri. Wujudkan syukur melalui cara Anda menggunakan pemberian tersebut. Layani pelanggan pertama dengan baik. Amalkan yang sudah dipelajari.

Saat penantian terasa menyakitkan, Anda pun boleh mencurahkannya kepada Allah.

Nabi Ya‘qub berkata:

إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
Surah Yusuf, ayat 86 (kutipan)

Beliau membawa kesedihannya kepada Allah sambil tetap berharap kepada-Nya. (Surah Yusuf : 86–87)

Sabar tidak mengharuskan Anda berpura-pura tidak kecewa. Anda boleh berkata, “Ya Allah, ini berat. Aku merasa patah semangat. Tolonglah aku.”

Sampaikan kesedihan itu kepada-Nya, cari dukungan saat dibutuhkan, dan terus pilih yang benar. Satu kegagalan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Allah meninggalkan Anda atau bahwa keyakinan Anda kurang kuat.

Hadirkan impian Anda saat menghayati Al Fatihah

Dalam Al Fatihah, kita membaca:

إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Surah Al Fatihah, ayat 5

Kemudian kita memohon:

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ

“Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.”
Surah Al Fatihah, ayat 6

Ibadah, ketergantungan kepada Allah, dan permohonan petunjuk saling berkaitan. (Surah Al Fatihah : 5–6)

Biarkan ayat-ayat ini membimbing cara Anda mengejar impian. Perhatikan salat Anda. Perbaiki kebiasaan tidak jujur. Tunaikan tanggung jawab yang selama ini terabaikan.

Iringi cita-cita dengan ketaatan yang bertambah. Anda bisa mulai mendekat kepada Allah hari ini, meskipun tujuan masih jauh.

Dalam doa pribadi, Anda bisa memohon:

“Ya Allah, Engkau mengetahui harapanku dan kelemahanku. Bantulah aku mengambil langkah yang benar. Jika tujuan ini baik bagi agama dan hidupku, mudahkanlah dan berkahilah. Jika tujuan ini membahayakanku, bimbinglah aku menuju yang lebih baik. Bantulah aku untuk tetap taat, sabar, dan bersyukur sepanjang perjalanan ini.”

Sekarang, pikirkan kembali impian terbesar Anda. Apakah Anda sudah menyingkirkannya hanya karena belum melihat jalan untuk mencapainya?

Tuliskan kebaikan yang Anda harapkan darinya, satu perubahan yang perlu dilakukan, dan satu tindakan yang bisa diambil hari ini.

Mintalah pertolongan Allah dengan tulus. Lalu ambil langkah itu dengan penuh harap kepada-Nya.

Lihat kehidupan melalui tuntunan Al-Quran: kejarlah kebaikan dengan berani, sambil mempercayakan kepada Allah apa yang berada di luar kendali Anda.

Temuan terkait