Kehidupan Sehari-hari

Aku Tahu Mana yang Benar. Kenapa Masih Begitu Sulit?

Terkadang, salah satu hal paling berarti yang kamu lakukan demi Allah justru adalah sesuatu yang kamu pilih untuk tidak dilakukan.

2 menit baca

Seorang pria duduk di tempat tidur sambil melihat ponsel di kamar yang diterangi lampu.

Kamu tahu bahwa amarah perlu dikendalikan. Namun, saat seseorang menyakitimu, rasanya ingin membalas dengan ucapan yang lebih menyakitkan.

Kamu tahu membicarakan keburukan orang lain itu salah. Namun, ketika orang-orang di sekitarmu mulai bergunjing, kamu tergoda untuk ikut.

Kamu tahu ada dosa yang harus kamu tinggalkan. Kamu sudah menyesalinya, memohon ampun kepada Allah, dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya.

Namun, godaan itu datang lagi.

Mengapa begitu sulit melakukan sesuatu yang sudah kita tahu benar?

Mungkin ada hal penting dalam pergulatan ini yang selama ini luput dari perhatian kita.

Terkadang, Menang Berarti Menahan Diri. Menahan Ucapan.

Kamu marah, tetapi memilih untuk tidak menghina.

Kamu mendengar orang bergunjing, tetapi memilih untuk tidak ikut.

Ada kesempatan untuk berbuat dosa, tetapi kamu memilih menjauh.

Tidak ada yang melihat pergulatan yang berhasil kamu lalui.

Namun, Allah tahu apa yang kamu tahan demi-Nya.

Terkadang, kemenangan terbesarmu justru terletak pada perbuatan yang berhasil kamu cegah dari dirimu sendiri.

Al-Qur’an menjelaskan mengapa hal ini begitu berarti.

Apa Kata Al-Qur’an tentang Menahan Hawa Nafsu?

Dalam Surah An-Nazi‘at, Allah menggambarkan orang yang takut saat kelak harus menghadap-Nya dan menahan diri dari keinginan yang salah.

Terjemahan makna, bukan kutipan terjemahan Indonesia terbitan:

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ ٤٠ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ ٤١

“Adapun orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsu, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.”
Surah An-Nazi‘at, ayat 40–41

Ada hal penting yang perlu kita perhatikan.

Allah tidak menggambarkan mereka sebagai orang yang sama sekali tidak memiliki keinginan.

Allah menggambarkan mereka sebagai orang yang menahan diri.

Pergulatan itu mungkin masih ada. Godaannya mungkin masih terasa kuat.

Namun, mereka memilih untuk taat daripada mengikuti hawa nafsu.

Dan pilihan itu memiliki nilai yang begitu besar di sisi Allah.

Dosa yang Tidak Jadi Kamu Lakukan Bisa Menjadi Kebaikan

Hadis
“Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan bahwa ketika seseorang berniat melakukan dosa, lalu mengurungkannya demi Allah, Allah mencatat satu kebaikan baginya. (Sahih Muslim 129)”
Ringkasan makna Sahih Muslim 129, bukan kutipan langsung

Coba renungkan.

Kamu ingin melakukan dosa. Kesempatannya ada. Tidak ada orang yang melihat.

Namun, kamu teringat kepada Allah, lalu memilih menjauh.

Kamu tidak melakukan amal baik yang tampak seperti biasanya. Meski begitu, keputusanmu untuk meninggalkan dosa demi Allah itu sendiri bisa mendapat pahala sebagai kebaikan.

Kita sering menilai kemajuan diri dari kebaikan yang kita lakukan.

Namun, mungkin selama ini kita kurang memperhatikan keburukan yang sengaja kita hindari demi Allah.

Saat Tak Ada Orang yang Melihat

Pikirkan satu dosa yang selama ini sulit kamu hindari.

Saat godaan itu datang lagi, ingatlah bahwa kamu punya pilihan.

Kamu bisa mengikuti keinginan itu, atau meninggalkannya demi Allah.

Katakan kepada dirimu sendiri:

“Aku ingin melakukannya, tetapi aku memilih meninggalkannya demi Allah.”

Mungkin tidak ada seorang pun yang menyadari pilihanmu.

Namun, Allah tahu.

Terkadang, salah satu hal paling berarti yang kamu lakukan demi Allah justru adalah sesuatu yang kamu pilih untuk tidak dilakukan.

Bagikan artikel ini

Diterbitkan

Sumber & referensi

Temuan terkait