Nikmat yang Allah Berikan Tanpa Kita Minta
Renungan dari Surah Al-‘Adiyat tentang ketergantungan kita kepada Allah, bahkan saat kita mendurhakai-Nya.
4 menit baca

Ada banyak hal yang kita minta kepada Allah: kesehatan, petunjuk, jalan keluar dari kesulitan, atau kebaikan bagi orang yang kita sayangi.
Namun, begitu banyak hal yang menopang hidup kita sudah Allah berikan tanpa perlu kita minta.
Kita tidak mengajukan permintaan untuk setiap detak jantung. Kita tidak meminta setiap gerakan yang membawa makanan melewati usus. Kita pun tidak mengatur sendiri bagaimana makanan diolah menjadi zat gizi yang dapat digunakan tubuh.
Semua itu berlangsung saat perhatian kita tertuju ke hal lain. Kita bisa menjalani hari seperti biasa tanpa menyadari betapa banyak proses yang sedang bekerja di dalam tubuh.
Tubuh bekerja tanpa menunggu perhatian kita
Jantung memiliki sistem kelistrikannya sendiri. Sel pemacu jantung menghasilkan sinyal yang mengoordinasikan detaknya. Aktivitas, hormon, dan sinyal saraf memengaruhi kecepatannya. Tetapi kita tidak memberikan perintah sadar untuk setiap kontraksi jantung.
Pencernaan juga melibatkan proses yang tidak kita arahkan secara sadar. Setelah proses menelan dimulai, makanan bergerak melalui kerongkongan secara otomatis. Saraf dan hormon membantu mengatur pergerakan makanan serta pelepasan cairan pencernaan.
Kita memang bisa mengubah pola napas dengan sengaja. Meski begitu, dalam keadaan biasa kita terus bernapas tanpa harus memperhatikannya.
Kita dapat merawat tubuh dan memengaruhi cara kerjanya. Dalam upaya itu pun, kita tetap mengandalkan sistem yang tidak kita ciptakan dan tidak kita kelola secara sadar.
Bagi seorang mukmin, hal sederhana ini dapat mendekatkan kesadaran akan pemeliharaan Allah. Saat membaca, makan, atau berbicara dengan seseorang, kita sedang menerima jauh lebih banyak daripada yang sempat kita ingat untuk minta.
Lalu, bagaimana dengan pilihan yang kita ambil dalam hidup yang terus Dia pelihara ini?
Kita bisa tahu bahwa pilihan kita salah
Allah memberi kita pilihan. Kita bisa berkata jujur atau sengaja berbohong. Kita bisa memenuhi tanggung jawab atau mengabaikannya meski tahu itu kewajiban kita. Kita bisa berbicara dengan hormat atau memilih kata-kata yang memang dimaksudkan untuk melukai.
Pilihan itu tidak membuat kita lepas dari ketergantungan kepada-Nya. Surah At-Takwir menyebut orang yang ingin menempuh jalan yang lurus, lalu mengingatkan bahwa kehendak kita bergantung pada kehendak Allah.
Surah Al-‘Adiyat memperlihatkan satu sisi perilaku manusia yang tidak nyaman untuk kita akui:
إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٞ ٦ وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٞ ٧
“Sungguh, manusia sangat tidak bersyukur kepada Tuhannya, dan sungguh, dia sendiri menjadi saksi atas hal itu.”
Ibn Kathir mencatat penafsiran bahwa ucapan dan perbuatan manusia sendiri menjadi saksi atas sikap tidak bersyukurnya. Beliau juga menyebut penafsiran bahwa Allah adalah saksi tersebut.
Penafsiran pertama mengajak kita melihat perilaku sendiri dengan jujur.
Kadang kita memang tahu. Kita tahu alasan yang kita berikan tidak benar. Kita tahu komentar itu kejam. Kita tahu tanggung jawab tersebut seharusnya kita penuhi. Bahkan mungkin sudah ada rasa tidak nyaman saat kita memilih untuk tetap melakukannya.
Kita dapat mengenali sebagian dari sikap tidak bersyukur itu dalam diri sendiri.
Saat kita mendurhakai-Nya, apa yang sedang terjadi?
Bayangkan seseorang sengaja berbohong agar terhindar dari tanggung jawab.
Saat ia berbicara, jantungnya tetap berdetak. Napasnya menopang suaranya. Ia menggunakan kemampuan berpikir untuk menyusun penjelasan yang meyakinkan, lalu menyampaikannya dengan suara yang ia miliki.
Kebohongan itu dilakukan melalui kemampuan yang diberikan kepadanya.
Selama mengucapkan kalimat itu, ia tidak pernah menjadi mandiri dari Allah. Hidup dan kemampuannya tetap bergantung kepada-Nya.
Hal yang sama dapat kita renungkan saat sengaja mengirim pesan yang menyakitkan. Kita mengandalkan penglihatan untuk membaca layar, pikiran untuk memahami kata-kata, dan jari untuk mengetik. Kita mungkin tahu luka yang ingin kita timbulkan, tetapi tetap menekan tombol kirim.
Menyadari bahwa kita sepenuhnya bergantung kepada Allah bahkan di dalam perbuatan maksiat itu sendiri membuat kita tertunduk.
Nikmat yang terus datang bukan berarti perbuatan kita diridai
Seseorang bisa berbuat salah dan mendapati hidupnya tetap berjalan seperti biasa. Ia masih bisa berbicara, bekerja, dan menikmati apa yang dimilikinya.
Al-Quran memberi kita alasan untuk tidak meremehkan keadaan itu. Dalam Surah An-Nahl ayat 61, Allah menjelaskan bahwa jika manusia langsung dihukum karena kezaliman mereka, tidak akan ada satu pun makhluk hidup yang tersisa di bumi. Namun, Allah menangguhkan mereka hingga waktu yang ditentukan.
Jangan menganggap nikmat yang masih kita terima sebagai bukti bahwa Allah meridai perbuatan salah tersebut.
Renungkan kelapangan waktu yang Allah berikan: aku telah berbuat salah, tetapi masih menerima segala yang menopang hidupku. Akibat yang belum terlihat bukan alasan untuk bersikap santai terhadap dosa itu.
Tuhan yang memelihara kita mengetahui diri kita sepenuhnya
Al-‘Adiyat ditutup dengan gambaran kebangkitan: isi kubur dikeluarkan, apa yang tersimpan di dalam dada disingkapkan, dan Tuhan mengetahui keadaan manusia sepenuhnya.
Renungan ini juga menyentuh pilihan yang kita sembunyikan. Orang lain mungkin mendengar alasan yang meyakinkan tanpa mengetahui bahwa kita sengaja menutupi kebenaran. Allah mengetahui apa yang ada di baliknya.
Dia yang menjadi tempat kita bergantung juga mengetahui niat dan perbuatan kita.
Ingatlah hal itu saat muncul dorongan untuk berbuat dosa. Sebelum melakukan dosa, berhentilah sejenak untuk menyadari apa yang sedang terjadi. Mintalah pertolongan Allah dengan kata-kata sendiri, lalu pilih tindakan yang jujur atau adil.
Jika kesalahan sudah terjadi, akui, mohon ampun, dan perbaiki apa yang bisa diperbaiki. Allah menjanjikan bahwa siapa pun yang berbuat salah lalu memohon ampun kepada-Nya akan mendapati Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Inilah kenyataan yang tidak nyaman untuk diakui: bahkan saat aku mendurhakai Allah, aku tetap bergantung kepada-Nya.
Bagikan artikel ini
Diterbitkan
Sumber & referensi
- NHLBI: Bagaimana jantung berdetak
- NIDDK: Sistem pencernaan dan cara kerjanya
- NHLBI: Bagaimana tubuh mengatur pernapasan
- Al-Quran, Surah At-Takwir : 28–29
- Surah Al-‘Adiyat : 6–7 (terjemahan makna oleh ChatGPT Work)
- Tafsir Ibn Kathir, Surah Al-‘Adiyat : 7
- Al-Quran, Surah An-Nahl : 61
- Al-Quran, Surah Al-‘Adiyat : 9–11
- Al-Quran, Surah An-Nisa : 110
- Foto: Bruno Leschi / Unsplash.
Temuan terkait

Suatu Hari, Seluruh Hidupmu Akan Terasa Seperti Satu Sore
Mengingat akhirat membantu hati kembali tenang bersama Allah di tengah perubahan hidup.

Satu Kebiasaan yang Mungkin Sedang Menghambat Kemajuan Anda
Terus membandingkan diri bisa membuat hidup yang baik terasa belum cukup. Belajar merespons dengan syukur, doa, dan langkah nyata.

Mengapa Kita Lebih Mengingat Allah Saat Hidup Sulit?
Mengapa kita lebih ingat Allah saat kesulitan? Renungkan Surah Yunus dan coba satu langkah sederhana agar tetap berdoa ketika hidup kembali lancar.