Kehidupan Sehari-hari

Suatu Hari, Seluruh Hidupmu Akan Terasa Seperti Satu Sore

Mengingat akhirat membantu hati kembali tenang bersama Allah di tengah perubahan hidup.

3 menit baca

Bayangan panjang pepohonan melintasi ladang berbukit yang dikelilingi hutan berwarna musim gugur.

Bayangkan seorang miliarder yang sehat, bisa bepergian ke mana saja, dan mampu mencukupi kebutuhan keluarganya dengan nyaman.

Di sisi lain, ada orang yang setiap hari harus menahan sakit sambil memikirkan cara memenuhi kebutuhan paling dasar.

Kehidupan mereka jauh berbeda. Namun, ayat terakhir Surah An-Nazi‘at memberi keduanya sudut pandang yang sama. Saat manusia menyaksikan hari kiamat, waktu yang mereka habiskan di dunia akan terasa sangat singkat:

كَأَنَّهُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَهَا لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا عَشِيَّةً أَوۡ ضُحَىٰهَا

“…seakan-akan mereka hanya tinggal di dunia selama satu sore atau satu pagi.”
Surah An-Nazi‘at : 46 (kutipan terjemahan makna)

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ketika manusia bangkit dari kubur dan menuju tempat berkumpul, kehidupan mereka di dunia akan terasa begitu singkat.

Seumur hidup menikmati kenyamanan. Seumur hidup menghadapi kesulitan. Keduanya akan menjadi masa lalu yang terasa seperti sebagian dari satu hari.

Tentu, saat menjalaninya, satu jam menahan sakit saja bisa terasa lama. Sebaliknya, ketika hidup terasa menyenangkan, kita mungkin berharap keadaan itu tidak pernah berubah. Ayat ini mengajak kita memandang semua pengalaman tersebut dengan mengingat akhirat yang akan datang.

Kekhawatiran bisa memenuhi pikiran. Kekecewaan bisa membuat hari esok terasa tanpa harapan. Kabar baik pun bisa begitu menyita perhatian sampai kita hanya ingin menikmati apa yang baru saja didapatkan.

Mengingat akhirat memberi kita alasan untuk berhenti sejenak. Apa yang memenuhi hidup hari ini adalah bagian dari perjalanan yang sementara. Kita tetap boleh peduli sepenuh hati, sambil mengingat bahwa kita akan kembali kepada Allah.

Sehat dan sakit, kaya dan miskin, semuanya bagian dari ujian. Allah berfirman:

وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ

“Dan Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian…”
Surah Al-Anbiya : 35 (kutipan terjemahan makna)

Surah Al-Hadid memberi petunjuk untuk menghadapi perubahan itu. Setelah menjelaskan bahwa setiap peristiwa telah tercatat sebelum terjadi, Allah berfirman:

لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ

“…agar kalian tidak berduka atas apa yang luput dari kalian dan tidak membanggakan apa yang Dia berikan kepada kalian.”
Surah Al-Hadid : 22–23 (kutipan terjemahan makna ayat 23)

Dalam tafsirnya, Ibn Katsir mencatat pendapat ‘Ikrimah: setiap orang merasakan bahagia dan sedih. Hadapilah kebahagiaan dengan syukur dan kesedihan dengan sabar.

Kita bisa tetap peduli pada keadaan sambil menemukan ketenteraman dalam hubungan dengan Allah. Hati memiliki tempat untuk kembali ketika rasa khawatir, sedih, atau gembira mulai menguasai diri.

Saat khawatir, pikiran mungkin terus membayangkan berbagai kemungkinan. Bisa jadi Anda sedang menunggu hasil pemeriksaan kesehatan atau memikirkan biaya hidup bulan depan. Lakukan langkah yang bisa Anda ambil. Sertakan juga permohonan pertolongan kepada Allah. Setiap kali kekhawatiran muncul lagi, Anda bisa kembali menghadap kepada-Nya. Masa depan yang belum Anda lihat tetap diketahui oleh-Nya.

Saat sedih, sampaikan rasa sakit itu kepada Allah. Mohon kelegaan, kekuatan, dan pertolongan agar tetap dekat dengan-Nya. Anda juga boleh mencari dukungan dari orang yang dipercaya. Teruslah berdoa dan menjaga ibadah, meskipun kesedihan belum reda.

Saat bahagia, nikmatilah karunia itu. Rayakan bersama keluarga, syukuri kesehatan, atau rasakan senangnya melihat hasil kerja keras Anda. Berterima kasihlah kepada Allah, mohon keberkahan atas pemberian-Nya, dan tetap luangkan waktu untuk beribadah. Biarkan salat dan zikir tetap hadir pada hari-hari yang menyenangkan.

Allah menggambarkan orang beriman yang hatinya tenteram dengan mengingat-Nya:

أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Surah Ar-Ra‘d : 28 (kutipan terjemahan makna)

Ketenteraman ini bisa kita cari bahkan ketika masalah belum selesai. Sambil terus mengusahakan jalan keluar, hati dapat kembali kepada Allah untuk menemukan ketenangan.

Memandang hidup melalui petunjuk Al-Qur’an berarti melihat keadaan hari ini dengan mengingat akhirat.

Sebelum larut dalam apa yang sedang terjadi, tanyakan kepada diri sendiri:

“Dalam keadaan yang sedang aku alami ini, bagaimana aku bisa tetap dekat dengan Allah?”

Al-Qur’an menyebut akhirat lebih baik dan lebih kekal. Dibandingkan dengan kehidupan yang abadi itu, umur panjang di dunia pun tetap singkat. Surah Al-A‘la : 17.

Suatu hari, kehidupan yang memuat semua kekhawatiran, kesedihan, dan kebahagiaan ini akan terasa seperti satu pagi atau satu sore. Mengingatnya dapat membantu kita menjalani hidup dengan hati yang lebih tenang: menikmati pemberian Allah, bersabar menghadapi kesulitan, dan terus menjaga kedekatan dengan-Nya.

Temuan terkait