Kehidupan Sehari-hari

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Surah Ad-Dhuha?

Urutan pesan dalam surah ini membuka cara melihat pertolongan Allah, menjaga martabat orang lain, dan memberi tempat bagi nikmat dalam cerita kita.

4 menit baca

Cahaya pagi menyinari roti, pisang, irisan jeruk dan segelas air di atas meja kayu.

Setiap pagi, matahari terbit membawa cahaya dan kehangatan bagi bumi. Tumbuhan mendapatkan energi untuk tumbuh, dan hari yang baru pun dimulai.

Kita terbangun dengan begitu banyak nikmat dari Allah, sering kali tanpa sempat menyadarinya.

Namun, kadang yang pertama terlintas di pikiran justru sesuatu yang belum kita miliki.

Pekerjaan yang lebih baik. Kesembuhan dari penyakit. Jawaban atas doa yang sudah berkali-kali kita panjatkan.

Mungkin kita memiliki keluarga yang menyayangi kita, makanan di meja, dan rumah yang nyaman. Namun, satu keinginan itu bisa memenuhi pikiran sepanjang hari.

Mengapa satu hal yang kita inginkan bisa membuat kita luput melihat begitu banyak hal yang sudah Allah berikan?

Surah Ad-Dhuha diawali dengan mengarahkan perhatian kita pada cahaya pagi.

Ayat-ayat berikutnya mengajak kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Saat hidup terasa tidak pasti

Surah Ad-Dhuha diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ setelah wahyu sempat terhenti selama beberapa waktu.

Pada masa itu, beliau menghadapi ucapan-ucapan menyakitkan dari orang-orang yang menentangnya.

Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ٣

“Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”
Surah Ad-Dhuha, ayat 3

Bayangkan betapa menenteramkannya menerima firman itu setelah melewati masa penuh ketidakpastian.

Ketika hidup terasa sulit, kita mungkin mulai menganggap keadaan yang kita alami sebagai gambaran hubungan kita dengan Allah.

Saat semuanya berjalan baik, kita merasa diberkahi. Saat keadaan memburuk, kita mungkin bertanya-tanya apakah Allah tidak rida kepada kita.

Padahal, kesulitan semata bukanlah bukti bahwa Allah telah meninggalkan seseorang.

Bahkan Nabi ﷺ pun mengalami kesulitan dan masa-masa penuh ketidakpastian.

Mengapa Allah mengingatkan Nabi pada masa lalunya?

Setelah menenteramkan hati Nabi ﷺ, Allah berfirman:

أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ٦

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia memberimu tempat berlindung?”
Surah Ad-Dhuha, ayat 6

وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ٧

“Dan Dia mendapatimu belum mengetahui jalan petunjuk, lalu Dia memberimu petunjuk.”
Surah Ad-Dhuha, ayat 7

وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ٨

“Dan Dia mendapatimu dalam kekurangan, lalu Dia memberimu kecukupan.”
Surah Ad-Dhuha, ayat 8

Perhatikan bagaimana Allah mengingatkan Nabi ﷺ pada pemeliharaan yang telah beliau terima.

Mengapa mengingat masa lalu ketika kesulitan sedang dihadapi sekarang?

Coba tengok kehidupan kita sendiri.

Mungkin ada sesuatu yang dahulu begitu kita harapkan, tetapi kini terasa biasa saja.

Pekerjaan yang dulu kita doakan. Rumah yang dulu kita impikan. Masa sulit yang dahulu kita kira tak akan sanggup kita lewati.

Sesuatu yang dulu kita minta dalam doa mungkin kini nyaris tak lagi kita perhatikan.

Kekhawatiran hari ini bisa membuat kita lupa betapa banyak yang sudah Allah berikan.

Mengingat nikmat yang telah kita terima membantu kita menyadari pemeliharaan Allah, bahkan di tengah kesulitan.

Arah yang tak terduga dalam Surah Ad-Dhuha

Di bagian ini, ada hal menarik untuk kita renungkan.

Setelah menenteramkan hati Nabi ﷺ dan mengingatkan beliau pada pemeliharaan Allah, surah ini tidak sekadar ditutup dengan perintah untuk bersyukur.

Allah kemudian memberikan tiga perintah:

فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ٩

“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”
Surah Ad-Dhuha, ayat 9

وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ١٠

“Dan terhadap orang yang meminta, janganlah engkau menghardiknya.”
Surah Ad-Dhuha, ayat 10

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ١١

“Dan nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau ceritakan.”
Surah Ad-Dhuha, ayat 11

Mengapa surah yang diawali dengan penghiburan bagi Nabi ﷺ kemudian beralih pada cara beliau memperlakukan orang lain?

Perhatikan kaitannya.

Allah mengingatkan bahwa beliau dahulu seorang yatim yang diberi tempat berlindung. Kemudian, Allah memerintahkan beliau agar tidak berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim.

Allah mengingatkan bahwa beliau pernah mengalami kekurangan, lalu diberi kecukupan. Kemudian, Allah memerintahkan beliau agar tidak menghardik orang yang meminta.

Pemeliharaan yang beliau terima berkaitan dengan kepedulian yang diperintahkan untuk beliau tunjukkan kepada orang lain.

Dari sini, kita bisa melihat nikmat Allah dengan cara yang berbeda.

Nikmat itu bukan hanya untuk kenyamanan kita sendiri. Di dalamnya juga ada kesempatan untuk peduli kepada sesama.

Bisakah kita berbuat baik tanpa mengharapkan balasan?

Membantu orang yang suatu hari mungkin bisa membalas kebaikan kita terasa mudah.

Namun, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki apa pun untuk membalasnya?

Bayangkan seorang anak yatim yang membutuhkan perhatian dan perlindungan. Ia mungkin tidak akan pernah mampu membalas kebaikan kita.

Apakah kita tetap bersedia meluangkan waktu, memberikan perhatian, dan mendukungnya?

Di situlah makna kebaikan yang diberikan tanpa mengharapkan imbalan.

Kita memberi bukan karena ingin mendapatkan sesuatu dari orang itu.

Kita memberi karena Allah telah lebih dahulu memberi kepada kita.

Berbuat baik pun tidak selalu membutuhkan uang. Kadang, bentuknya sesederhana bersikap sabar, menghormati seseorang, dan menjaga martabatnya.

Alih-alih hanya bertanya, “Apa lagi yang bisa Allah berikan kepadaku?”

Kita bisa mulai bertanya, “Apa yang bisa kulakukan dengan apa yang sudah Allah berikan?”

Satu hal yang bisa kita lakukan hari ini

Ingatlah satu nikmat yang dahulu kita harapkan atau doakan, tetapi kini sudah menjadi bagian biasa dari keseharian.

Luangkan waktu sejenak untuk menyadari bahwa itu adalah pemberian Allah.

Lalu, pikirkan satu orang yang bisa terbantu oleh kebaikan kita hari ini, terutama seseorang yang tidak bisa memberikan apa pun sebagai balasannya.

Lakukan sesuatu yang baik untuknya dengan tulus, demi mengharap rida Allah.

Meski masih menantikan sesuatu dari Allah, kita sudah memiliki sesuatu yang bisa kita berikan.

Mulai pahami ayat-ayat Quran yang selama ini Anda baca

Surah Ad-Dhuha adalah salah satu contoh bagaimana memahami kata-kata dalam Quran dapat mengubah cara kita memandang kehidupan sehari-hari.

Bersama Think Quran, mulailah mempelajari makna kata-kata yang sering Anda temui dalam Quran dan temukan lebih banyak petunjuk dalam ayat-ayat yang Anda baca.

Temuan terkait