Al-Quran yang Sama. Mengapa Sebagian Hati Berubah, yang Lain Tidak?
Dua orang mendengar ayat Al-Quran yang sama. Satu memilih berubah, yang lain tetap seperti sebelumnya. Seorang ulama awal menemukan penjelasan yang menggugah dalam ayat tentang tanaman yang menerima air yang sama.
4 menit baca

Dua orang menyimak ayat Al-Quran yang sama.
Yang satu beranjak dengan tekad mengubah sesuatu dalam hidupnya. Yang lain melanjutkan hidup seperti sebelumnya.
Mengapa kata-kata yang sama bisa melahirkan respons yang begitu berbeda?
Seorang ulama pada masa awal Islam mengajak kita melihat pertanyaan ini melalui ayat yang tak terduga: tentang tanah-tanah yang berdampingan dan buah-buahan yang dihasilkannya.
Air yang Sama. Buah yang Berbeda.
Dalam Surah Ar-Ra'd, Allah mengajak kita memperhatikan sesuatu yang luar biasa di tengah keseharian yang akrab.
وَفِي ٱلۡأَرۡضِ قِطَعٞ مُّتَجَٰوِرَٰتٞ وَجَنَّٰتٞ مِّنۡ أَعۡنَٰبٖ وَزَرۡعٞ وَنَخِيلٞ صِنۡوَانٞ وَغَيۡرُ صِنۡوَانٖ يُسۡقَىٰ بِمَآءٖ وَٰحِدٖ وَنُفَضِّلُ بَعۡضَهَا عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلۡأُكُلِۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ٤
“Di bumi terdapat tanah-tanah yang berdampingan, kebun anggur, berbagai tanaman dan pohon kurma, ada yang tumbuh dari akar yang sama dan ada yang berdiri sendiri. Semuanya diairi dengan air yang sama, tetapi Kami melebihkan sebagian atas sebagian yang lain dalam rasa buahnya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang menggunakan akal.”
Bayangkan dua tanaman tumbuh berdampingan.
Keduanya mendapat air dari sumber yang sama. Namun, satu menghasilkan buah yang manis, sedangkan yang lain menghasilkan buah dengan rasa berbeda.
Allah mengarahkan perhatian kita pada perbedaan ini sebagai tanda kekuasaan-Nya dalam menciptakan.
Namun, Al-Hasan al-Basri, seorang ulama pada masa awal Islam, melihat pelajaran lain dalam ayat tersebut.
Bagaimana jika tanah-tanah yang berbeda itu juga mengingatkan kita pada beragam cara hati manusia merespons petunjuk?
Pengingat yang Sama. Hati yang Berbeda.
Dalam tafsir Surah Ar-Ra'd 13:4, Imam al-Tabari mencatat penjelasan dari Al-Hasan al-Basri.
Al-Hasan membandingkan tanah-tanah berbeda yang menerima air yang sama dengan hati manusia yang menerima pengingat dari Allah.
Sebagian hati melunak. Hati itu menjadi rendah hati dan terbuka untuk menerima.
Sebagian lainnya menjadi lalai, teralihkan dan menolak.
Pengingat itu sampai kepada mereka, tetapi responsnya tidak sama.
Ini adalah penafsiran Al-Hasan yang tercatat dalam tafsir klasik, bukan bunyi ayat itu secara langsung.
Penjelasan ini membawa kita pada pertanyaan yang patut diajukan kepada diri sendiri.
Jika Al-Qurannya sama, apa yang terjadi di dalam diri kita saat mendengarnya?
Dua Orang Mendengar Pengingat yang Sama
Bayangkan dua orang mendengar pengingat Al-Quran yang sama tentang memaafkan.
Yang satu teringat pada seseorang yang pernah ia sakiti, lalu memutuskan untuk meminta maaf.
Yang lain mendengar ayat yang sama, tetapi tetap membenarkan perilakunya.
Pesannya sama.
Respons mereka berbeda.
Sekarang, pikirkan diri kita sendiri.
Pernahkah kita mendengar pengingat Al-Quran, menyadari bahwa itu berkaitan dengan hidup kita, tetapi tetap melakukan hal yang sama seperti sebelumnya?
Mungkin kita tahu bahwa kita perlu meminta maaf.
Mungkin kita tahu bahwa kita perlu menahan amarah.
Mungkin kita menyadari ada kebiasaan yang harus ditinggalkan.
Kita mengerti mana yang benar. Namun, ketika waktunya bertindak, kita kembali pada kebiasaan yang sudah akrab.
Terkadang, yang sulit bukan mendengar pengingatnya.
Yang sulit adalah membiarkan pengingat itu mengusik keputusan yang telanjur kita ambil.
Renungan ini bukan untuk menghakimi hati orang lain. Ini tentang memeriksa hati kita sendiri.
Apa yang Kita Bawa Setelahnya?
Al-Hasan al-Basri juga menyampaikan sebuah pengamatan yang menggugah, tercatat dalam riwayat tafsir yang sama.
Secara makna, beliau mengatakan bahwa tidak seorang pun duduk bersama Al-Quran kecuali ia beranjak dengan pertambahan atau pengurangan.
Beliau menghubungkan pengamatan ini dengan ayat lain:
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا ٨٢
“Dan Kami menurunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang beriman, tetapi hanya menambah kerugian bagi orang-orang zalim.”
Al-Quran merupakan sumber penyembuhan dan rahmat bagi orang beriman. Namun, ayat ini juga memperingatkan kita tentang akibat kezaliman.
Pengamatan Al-Hasan mengajak kita memikirkan apa yang kita bawa setelah berjumpa dengan Al-Quran.
Ini bukan berarti kita harus mengalami perubahan besar setiap kali membaca.
Kadang perubahan dimulai dari kesadaran kecil. Kadang kita masih berjuang mengamalkan hal yang sudah kita ketahui.
Yang penting, kita tetap bersedia mendengar, merenung, memohon rahmat Allah dan kembali pada petunjuk-Nya.
Biarkan Satu Ayat Menjangkau Satu Keputusan
Saat membaca Al-Quran nanti, cobalah sesuatu yang sederhana.
Pilih satu ayat. Pahami maknanya. Lalu tanyakan kepada diri sendiri:
Apa satu hal yang bisa saya lakukan secara berbeda karena sekarang saya memahaminya?
Jika ayat itu mengingatkan tentang memaafkan, pikirkan apakah ada kesalahan yang perlu kita perbaiki.
Jika ayat itu mengingatkan untuk mengendalikan amarah, pilihlah menahan diri ketika nanti merasa terpancing.
Jika ayat itu mengingatkan tentang syukur, sadari nikmat yang selama ini luput dari perhatian.
Perubahannya tidak harus besar.
Satu keputusan yang tulus adalah awal yang bermakna.
Jika masih terasa sulit, kembalilah pada pengingat itu. Belajar menjalani hidup dengan Al-Quran tidak selalu berarti berubah seketika.
Mungkin kita sudah membaca surah yang sama ratusan kali.
Kata-katanya tidak berubah.
Namun, saat membacanya lagi, kita bisa berhenti sejenak, memahami apa yang Allah sampaikan dan memilih untuk merespons.
Al-Quran itu mungkin Al-Quran yang sama kita baca kemarin. Pertanyaannya, apakah kita akan merespons secara berbeda hari ini?
Temukan Apa yang Al-Quran Sampaikan kepada Anda
Think Quran membantu Anda mulai memahami kata-kata yang dibaca, agar lebih banyak petunjuk Al-Quran dapat dikenali dan maknanya direnungkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai perjalanan memahami bahasa Arab Al-Quran bersama Think Quran.
Bagikan artikel ini
Diterbitkan
Sumber & referensi
- Surah Ar-Ra'd : 4. Penyajian makna dalam bahasa Indonesia oleh editorial, merujuk ayat dan makna The Clear Quran.
- Imam al-Tabari, Jami' al-Bayan, Surah Ar-Ra'd : 4, riwayat 20113 dari Al-Hasan al-Basri.
- Surah Al-Isra : 82. Penyajian makna dalam bahasa Indonesia oleh editorial, bukan terjemahan Dr Mustafa Khattab.
Temuan terkait

Nabi ﷺ Tidak Hanya Membaca Al-Qur'an. Beliau Meresponsnya.
Kisah salat malam Nabi ﷺ menunjukkan satu pertanyaan sederhana setelah kita memahami sebuah ayat Al-Qur'an.

Perhatikan Lebih Dekat: Tanda Kebesaran Allah dalam Ciptaan-Nya
Dari atmosfer Bumi hingga hujan dan proses tak terlihat dalam tubuh, temukan sistem luar biasa yang Al-Quran mengajak kita perhatikan.

Aku Tahu Mana yang Benar. Kenapa Masih Begitu Sulit?
Terkadang, salah satu hal paling berarti yang kamu lakukan demi Allah justru adalah sesuatu yang kamu pilih untuk tidak dilakukan.