Kehidupan Sehari-hari

Mengapa Allah Tetap Menyebut Pendosa 'Hamba-Hamba-Ku'?

Surah Az-Zumar 39:53 menyapa orang yang berdosa dengan 'wahai hamba-hamba-Ku', lalu 39:54 mengajak mereka kembali dengan tobat yang tulus.

3 menit baca

Gambar buatan AI: seorang pria terlihat dari belakang melangkah dari lorong yang gelap menuju sajadah yang diterangi lampu pada waktu senja.

Kamu pernah berjanji pada dirimu sendiri bahwa kamu tidak akan mengulanginya lagi.

Namun, kamu mengulanginya juga.

Sekarang kamu ingin memohon ampun kepada Allah, tetapi ada sesuatu yang menahanmu. Kamu merasa malu untuk memanjatkan doa yang sama, seolah-olah Allah mungkin sudah lelah mendengar permintaan maafmu.

Lalu kamu menemukan sebuah ayat yang dimulai dengan sapaan yang mungkin tidak kamu duga: "Wahai hamba-hamba-Ku."

Sapaan yang mungkin tidak kamu duga

۞ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ٥٣

“Katakanlah (wahai Nabi, bahwa Allah berfirman): "Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, karena sungguh Allah mengampuni semua dosa. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."”
Surah Az-Zumar, ayat 53

Allah memerintahkan Nabi ﷺ menyampaikan ayat ini kepada orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Al-Qur'an tidak sedang membicarakan kesalahan kecil yang tidak disadari. Ayat ini menyapa orang yang tahu bahwa mereka telah melanggar batas.

Namun, kata pertama yang mereka dengar bukanlah "Kamu sudah tamat." Sebaliknya, "Wahai hamba-hamba-Ku."

Sapaan itu memang bagian dari ayat tersebut. Harapan yang muncul dalam hati pembaca hari ini adalah renungan kita terhadap kata-kata itu, bukan klaim tambahan tentang apa yang dirasakan atau layak diterima oleh setiap pendosa.

Ayat ini tidak berarti Allah menyetujui perbuatan salah. Ayat ini menegaskan bahwa dosa tidak boleh dijadikan alasan untuk berputus asa dari rahmat-Nya.

Allah menyambut orang yang kembali

Hadis
“Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah lebih gembira dengan tobat seorang hamba yang kembali kepada-Nya daripada seorang musafir yang kehilangan untanya di padang pasir yang tandus, bersama seluruh bekal makanan dan minumannya, lalu berputus asa sebelum tiba-tiba mendapati untanya berdiri di hadapannya. Dalam kegembiraan yang luar biasa, musafir itu terceplos mengucapkan kata-kata yang tidak ia maksudkan. Hadis ini menggunakan gambaran manusia tersebut untuk menunjukkan betapa tobat yang tulus disambut oleh Allah.”
Sahih Muslim 2747a

Ini bukan gambaran Allah bergembira karena dosa. Ini gambaran keridhaan-Nya ketika seorang hamba akhirnya kembali.

Itu mengubah pertanyaannya. Persoalannya bukan apakah Allah bersedia menerima orang yang kembali. Persoalannya adalah apakah kita benar-benar mau kembali.

Undangan ini menuntut kepulangan yang nyata

Ayat berikutnya langsung berfirman: "Dan kembalilah kepada Tuhanmu dengan bertobat, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepadamu, kemudian kamu tidak akan ditolong" (Surah Az-Zumar : 54).

Ibn Kathir menjelaskan ayat ini sebagai seruan kepada semua pendosa agar bertobat dan kembali kepada Allah. Beliau juga menegaskan bahwa ini bukan janji menyeluruh bagi orang yang menolak bertobat.

Al-Tabari juga mengaitkan ampunan Allah dengan orang yang bertobat dari dosa mereka. Rahmat Allah sangat luas, tetapi respons yang diminta tetap tobat, bukan sekadar rasa lega.

Bayangkan seseorang yang menyadari larut malam bahwa ia telah berkata kasar lagi. Rasa malu yang sama muncul. Ia bisa berlindung di balik alasan, atau mengakui kesalahannya, memohon ampun kepada Allah, dan meminta maaf kepada orang yang ia sakiti.

Itulah perbedaan antara sekadar merasa bersalah dengan benar-benar kembali. Kembali mungkin berarti meninggalkan dosa, mengembalikan hak seseorang, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dan menerima bahwa sebagian akibat membutuhkan waktu untuk pulih.

Jangan serahkan masa depan kepada keputusasaan

Kamu tidak bisa berjanji dengan pasti bahwa kamu tidak akan tersandung lagi. Namun, kamu bisa menentukan apa yang akan kamu lakukan ketika kamu jatuh lagi.

Kamu bisa menolak untuk membela kesalahan itu. Kamu bisa menolak membiarkan rasa malu menunda kepulanganmu. Kamu bisa kembali dengan segera, tulus, dan dengan langkah yang berubah.

Ayat ini tidak mengatakan bahwa dosa masa lalu itu tidak apa-apa. Ayat ini melarang kita menyerahkan masa depan kepada keputusasaan.

Dan ayat ini dimulai dengan sapaan yang layak kita ingat:

"Wahai hamba-hamba-Ku."

Temuan terkait